PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO, 2014),
proporsi penduduk di atas 60 tahun di dunia tahun 2000 sampai 2050 akan
berlipat ganda dari sekitar 11% menjadi 22%, atau secara absolut meningkat dari
605 juta menjadi 2 milyar lansia. Peningkatan jumlah penduduk lansia juga
terjadi di negara Indonesia (WHO, 2014).
Data dari
Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kedeputian I Bidang
Kesejahteraan Sosial penduduk lanjut usia di Indonesia tahun 2010 sebesar 23,9
juta (9,77%) dengan usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020
diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1 tahun.
Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan Proporsi penduduk lansia di
Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan selama 30 tahun bahwa
indonesia termasuk lima besar Negara dengan jumlah penduduk lanjut usia
terbanyak di dunia yakni mencapai 18,1 juta jiwa pada 2010 atau 9,6 persen dari
jumlah penduduk Indonesia. (Menkokesra, 2013).
Provinsi Jawa Barat
termasuk salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang berpenduduk dengan
struktur tua (apabila suatu wilayah atau Negara sebagian besar penduduknya tua
tidak terdaftar lagi). Data Departemen Sosial (Depsos) menyebutkan jumlah
penduduk dengan struktur tua (Lansia)
mencapai 7,09%. Daerah lain yang juga masih tujuh besar diantaranya Jawa Timur sebesar 9,36%,
Bali 8,77% dan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) 2,48%. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat setiap
tahun dan peningkatan proporsi penduduk lansia merupakan imbas dari peningkatan
ekonomi, pendidikan, sistem kesehatan, sanitasi dan nutrisi (Depsos, 2015).
Berdasarkan
proyeksi Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, jumlah penduduk Lansia kelompok
umur usia 60-70 tahun kabupaten Cianjur tahun 2014 sebanyak 106.626 jiwa yang
terdiri dari 53.089 jiwa laki-laki dan 68.612 jiwa perempuan yang tersebar di
16 kecamatan. (pofil data Dinas Kesehatan Cianjur, 2014).
Penuaan
adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Jalan secara terus
menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menimbulkan perubahan anatomis,
fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan
kemampuan tubuh secara keseluruhan (Depkes RI dalam maryam, dkk, 2008).
Dalam
aspek kesehatan diketahui semakin bertambah tua umurnya, maka lansia yang
mengalami keluhan kesehatan akan semakin banyak. Sebanyak 37,11% penduduk pra
lansia (45-59 tahun) pernah mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir,
sementara lansia muda (60-69 tahun) sebesar 48,39%, lansia madya (70-79 tahun)
sebesar 57,65% dan lansia tua (80-89 tahun) sebesar 64,01% yang mengeluarkan
kondisi kesehatannya. Selanjutnya, dilihat dari angka kesakitan (Morbidity rates) lansia yaitu
terganggunya kegiatan sehari-hari sebagai akibat dari keluhan kesehatan yang
dideritanya. Angka kesakitan lansia tahun 2014 sebesar 25,05% seperti bahwa
sekitar 1 dari 4 lansia pernah mengalami sakit dalam satu bulan terakhir
(Statistik Penduduk Lanjut Usia Indonesia, 2014).
System musculoskeletal yang merupakan komponen structural utama mengalami penurunan
yaitu cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk
(kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram (Maryam
dkk, 2008). Dengan bertambahnya usia, pada proses menua kadar kapur (kalsium)
dalam tulang menurun, akibatnya tulang menjadi kropos dan mudah patah
(Bandiyah, 2009). Dengan terjadinya degenerative pada lansia terjadi berbagai
masalah antara lain stroke, demenstia,
diabetes mellitus, osteoporosis
dan gangguan persendian (Darmojo, 2011). Upaya – upaya untuk mempertahankan
kesehatan pada lansia dapat dilakukan dengan cara : peningkatan (promotion), pencegahan (prevention), diagnosis dini dan
pengobatan (early diagnosi and treatmen),
pembatasan kecacatan (disability
limitation), serta pemulihan (rehabilitation)
(Maryam dkk, 2008).
Kesegaran
jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan tugas sehari–hari tanpa
mengalami kelelahan yang berarti dan masih memiliki cadangan tenaga tanpa
minikmati waktu senggangnya dengan baik (Pudjiastuti dan Utomo dalam Maryam
dkk, 2008). Olahraga usia lanjut perlu diberikan dengan berbagai patokan,
antara lain beban ringan atau sedang, waktu relatif lama, bersifat aerobik, dan
atau kalistenik, tidak kompetitif/bertanding (Bandiyah, 2009). Senam lansia
jika dilakukan dengan teratur dan benar dalam jangka waktu yang cukup akan
memiliki dampak yang positif antara lain : mempertahankan atau meningkatkan
kebugaran jasmani, memperlambat proses degenerasi karena perubahan usia,
membentuk kondisi fisik (kekuatan otot, kelenturan, keseimbangan, ketahaann,
keleluwesan, kecepatan), memberikan rangsangan bagi saraf – saraf yang lemah,
khususnya bagi lansia (Maryam dkk, 2008). Latihan fisik dilakukan secara
teratur dengan dosis yang tepat selain bermanfaat secara fisiologik yaitu
mengoptimalkan gerak otot dan sendi, meningkatkan kebugaran jasmani, mengurangi
resiko cedera otot dan sendi, mengurangi ketegangan dan nyeri otot, meletakan
fungsi otot dan sendi yang sempurna, melatih otot yang lemah agar menjadi kuat,
mencegah terjadinya kontraktur serta atrofi otot, memberikan rasa nyaman dan
relaksasi (Maryam dkk, 2008).
Olah raga
yang sering diterapkan pada lansia adalah senam lansia dapat mengikuti senam
sesuai tingkat kemampuannya dan diiringi musik lagu jawa yang menarik bagi
lansia. Senam lansia bermanfaat dalam memperlambat proses penuaan, mengurangi
kejadian kegemukan, diabetes mellitus, hipertensi, kelainan otot-otot sendi dan
tulang, serta memperbaiki keadaan mental lansia (Suarto dalam Adinata, 2007).
Untuk
menciptakan lansia yang produktif maka lansia harus mengetahui manfaat senam
lansia sebagai motivasi lansia dalam mengikuti senam lansia secara teratur yang
dilaksanakan sebagai program posyandu lansia yang bertujuan untuk menurunkan
angka kesakitan pada lansia, bahkan pemerintah semakin menggalakkan senam
lansia ini dengan mengadakan senam lansia bersama-sama disertai dengan
pemeriksaan kesehatan gratis dan peelombaan senam bugar lansia yang di tujukan
untuk menarik minat lansia terhadap senam lansia dan peningkatan kesadaran
terhadap kualitas kesehatan lansia.
Hasil penelitian
yang dilakukan Yani (2015) di posyandu Desa Ngargorejo pada 47 lansia. Tingkat
pengetahuan lansia tentang senam lansia secara umum dikategorikan baik sebanyak
37%, dan sisanya sebanyak 62% termasuk dalam kategori cukup dan rendah tentang
pengetahuan senam lansia.
Dari data
Puskesmas Cibeber sampai Agustus 2016, tercatat berdasarkan kelompok umur, usia
60-70 tahun sebanyak 9.982 lansia yang tersebar di 18 Desa. Desa Kanoman merupakan
salah satu Desa yang termasuk wilayah Puskesmas Cibeber, di Desa Kanoman
terdapat 499 lansia dalam kelompok umur tersebut. (Data Puskesmas Cibeber,
2016)
Berdasarkan
Studi Pendahuluan yang dilakukan oleh penulis di Desa Kanoman pada kelompok
lansia usia 60-70 tahun di Desa Kanoman. Dari 10 orang lansia yang ditemui dan
ditanya mengenai pengetahuan tentang senam lansia 6 lansia tidak mengetahui
manfaat senam lansia, sedangkan 4 lansia dapat menyebutkan beberapa manfaat
senam tetapi untuk mengikuti kegiatan senam masih sangat minim.
Berdasarkan
latar belakang tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Gambaran Pengetahuan Lansia
tentang Senam Lansia di Desa Kanoman Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Tahun 2016”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah Gambaran
Pengetahuan Lansia tentang senam lansia di Desa Kanoman Kecamatan Cibeber
Kabupaten Cianjur Tahun 2016?”.
C.
Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk
mengetahui gambaran pengetahuan Lansia tentang Senam Lansia di Desa Kanoman Kecamatan
Cibeber Kabupaten Cianjur Tahun 2016.
2.
Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan lansia tentang pengertian
senam lansia.
b.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan lansia tentang manfaat senam
lansia.
c.
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan lansia tentang cara
melakukan senam lansia.
D.
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Memperluas
pengetahuan dan wawasan penulis agar dapat mengaplikasiakan dalam pelayanan
kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap lansia tentang senam lansia.
2.
Manfaat Praktis
a. Bagi
Lansia
Diharapkan dapat lebih aktif dalam melakukan olahraga seperti
senam lansia karena banyak manfaat bagi lansia
b. Bagi
Puskesmas
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai
bahan masukkan dalam upaya peningkatan senam lansia terutama di posyandu Desa
Kanoman Kecamatan Cibeber.
c. Bagi
Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber referensi dan bahan
kajian dalam penelitian selanjutnya.
d. Bagi
Peneliti
Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu
dan teori yang diperoleh serta untuk
meningkatkan pengetahuan dan wawasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar