Sabtu, 13 Agustus 2016

GAMBARAN PENGETAHUAN LANSIA TENTANG SENAM LANSIA DI DESA TAHUN 2016



PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO, 2014), proporsi penduduk di atas 60 tahun di dunia tahun 2000 sampai 2050 akan berlipat ganda dari sekitar 11% menjadi 22%, atau secara absolut meningkat dari 605 juta menjadi 2 milyar lansia. Peningkatan jumlah penduduk lansia juga terjadi di negara Indonesia (WHO, 2014).
Data dari Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kedeputian I Bidang Kesejahteraan Sosial penduduk lanjut usia di Indonesia tahun 2010 sebesar 23,9 juta (9,77%) dengan usia harapan hidupnya 67,4 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan sebesar 28,8 juta (11,34%) dengan usia harapan hidup 71,1 tahun. Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan Proporsi penduduk lansia di Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan selama 30 tahun bahwa indonesia termasuk lima besar Negara dengan jumlah penduduk lanjut usia terbanyak di dunia yakni mencapai 18,1 juta jiwa pada 2010 atau 9,6 persen dari jumlah penduduk Indonesia. (Menkokesra, 2013).
Provinsi Jawa Barat termasuk salah satu dari tujuh provinsi di Indonesia yang berpenduduk dengan struktur tua (apabila suatu wilayah atau Negara sebagian besar penduduknya tua tidak terdaftar lagi). Data Departemen Sosial (Depsos) menyebutkan jumlah penduduk dengan  struktur tua (Lansia) mencapai 7,09%. Daerah lain yang juga masih tujuh  besar diantaranya Jawa Timur sebesar 9,36%, Bali 8,77% dan Daerah  Istimewa Yogyakarta (DIY) 2,48%. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat setiap tahun dan peningkatan proporsi penduduk lansia merupakan imbas dari peningkatan ekonomi, pendidikan, sistem kesehatan, sanitasi dan nutrisi (Depsos, 2015).
Berdasarkan proyeksi Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, jumlah penduduk Lansia kelompok umur usia 60-70 tahun kabupaten Cianjur tahun 2014 sebanyak 106.626 jiwa yang terdiri dari 53.089 jiwa laki-laki dan 68.612 jiwa perempuan yang tersebar di 16 kecamatan. (pofil data Dinas Kesehatan Cianjur, 2014).
Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Jalan secara terus menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menimbulkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh, sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan (Depkes RI dalam maryam, dkk, 2008).
Dalam aspek kesehatan diketahui semakin bertambah tua umurnya, maka lansia yang mengalami keluhan kesehatan akan semakin banyak. Sebanyak 37,11% penduduk pra lansia (45-59 tahun) pernah mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir, sementara lansia muda (60-69 tahun) sebesar 48,39%, lansia madya (70-79 tahun) sebesar 57,65% dan lansia tua (80-89 tahun) sebesar 64,01% yang mengeluarkan kondisi kesehatannya. Selanjutnya, dilihat dari angka kesakitan (Morbidity rates) lansia yaitu terganggunya kegiatan sehari-hari sebagai akibat dari keluhan kesehatan yang dideritanya. Angka kesakitan lansia tahun 2014 sebesar 25,05% seperti bahwa sekitar 1 dari 4 lansia pernah mengalami sakit dalam satu bulan terakhir (Statistik Penduduk Lanjut Usia Indonesia, 2014).
System musculoskeletal yang merupakan komponen structural utama mengalami penurunan yaitu cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram (Maryam dkk, 2008). Dengan bertambahnya usia, pada proses menua kadar kapur (kalsium) dalam tulang menurun, akibatnya tulang menjadi kropos dan mudah patah (Bandiyah, 2009). Dengan terjadinya degenerative pada lansia terjadi berbagai masalah antara lain stroke, demenstia, diabetes mellitus, osteoporosis dan gangguan persendian (Darmojo, 2011). Upaya – upaya untuk mempertahankan kesehatan pada lansia dapat dilakukan dengan cara : peningkatan (promotion), pencegahan (prevention), diagnosis dini dan pengobatan (early diagnosi and treatmen), pembatasan kecacatan (disability limitation), serta pemulihan (rehabilitation) (Maryam dkk, 2008).
Kesegaran jasmani adalah kemampuan seseorang untuk melakukan tugas sehari–hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti dan masih memiliki cadangan tenaga tanpa minikmati waktu senggangnya dengan baik (Pudjiastuti dan Utomo dalam Maryam dkk, 2008). Olahraga usia lanjut perlu diberikan dengan berbagai patokan, antara lain beban ringan atau sedang, waktu relatif lama, bersifat aerobik, dan atau kalistenik, tidak kompetitif/bertanding (Bandiyah, 2009). Senam lansia jika dilakukan dengan teratur dan benar dalam jangka waktu yang cukup akan memiliki dampak yang positif antara lain : mempertahankan atau meningkatkan kebugaran jasmani, memperlambat proses degenerasi karena perubahan usia, membentuk kondisi fisik (kekuatan otot, kelenturan, keseimbangan, ketahaann, keleluwesan, kecepatan), memberikan rangsangan bagi saraf – saraf yang lemah, khususnya bagi lansia (Maryam dkk, 2008). Latihan fisik dilakukan secara teratur dengan dosis yang tepat selain bermanfaat secara fisiologik yaitu mengoptimalkan gerak otot dan sendi, meningkatkan kebugaran jasmani, mengurangi resiko cedera otot dan sendi, mengurangi ketegangan dan nyeri otot, meletakan fungsi otot dan sendi yang sempurna, melatih otot yang lemah agar menjadi kuat, mencegah terjadinya kontraktur serta atrofi otot, memberikan rasa nyaman dan relaksasi (Maryam dkk, 2008).
Olah raga yang sering diterapkan pada lansia adalah senam lansia dapat mengikuti senam sesuai tingkat kemampuannya dan diiringi musik lagu jawa yang menarik bagi lansia. Senam lansia bermanfaat dalam memperlambat proses penuaan, mengurangi kejadian kegemukan, diabetes mellitus, hipertensi, kelainan otot-otot sendi dan tulang, serta memperbaiki keadaan mental lansia (Suarto dalam Adinata, 2007).
Untuk menciptakan lansia yang produktif maka lansia harus mengetahui manfaat senam lansia sebagai motivasi lansia dalam mengikuti senam lansia secara teratur yang dilaksanakan sebagai program posyandu lansia yang bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan pada lansia, bahkan pemerintah semakin menggalakkan senam lansia ini dengan mengadakan senam lansia bersama-sama disertai dengan pemeriksaan kesehatan gratis dan peelombaan senam bugar lansia yang di tujukan untuk menarik minat lansia terhadap senam lansia dan peningkatan kesadaran terhadap kualitas kesehatan lansia.
Hasil penelitian yang dilakukan Yani (2015) di posyandu Desa Ngargorejo pada 47 lansia. Tingkat pengetahuan lansia tentang senam lansia secara umum dikategorikan baik sebanyak 37%, dan sisanya sebanyak 62% termasuk dalam kategori cukup dan rendah tentang pengetahuan senam lansia.
Dari data Puskesmas Cibeber sampai Agustus 2016, tercatat berdasarkan kelompok umur, usia 60-70 tahun sebanyak 9.982 lansia yang tersebar di 18 Desa. Desa Kanoman merupakan salah satu Desa yang termasuk wilayah Puskesmas Cibeber, di Desa Kanoman terdapat 499 lansia dalam kelompok umur tersebut. (Data Puskesmas Cibeber, 2016)
Berdasarkan Studi Pendahuluan yang dilakukan oleh penulis di Desa Kanoman pada kelompok lansia usia 60-70 tahun di Desa Kanoman. Dari 10 orang lansia yang ditemui dan ditanya mengenai pengetahuan tentang senam lansia 6 lansia tidak mengetahui manfaat senam lansia, sedangkan 4 lansia dapat menyebutkan beberapa manfaat senam tetapi untuk mengikuti kegiatan senam masih sangat minim.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Gambaran Pengetahuan Lansia tentang Senam Lansia di Desa Kanoman Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Tahun 2016”.

B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Lansia tentang senam lansia di Desa Kanoman Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Tahun 2016?”.


C.   Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan Lansia tentang Senam Lansia di Desa Kanoman Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur Tahun 2016.
2.    Tujuan Khusus
a.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan lansia tentang pengertian senam lansia.
b.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan lansia tentang manfaat senam lansia.
c.    Untuk mengetahui gambaran pengetahuan lansia tentang cara melakukan senam lansia.

D.   Manfaat Penelitian
1.     Manfaat Teoritis
Memperluas pengetahuan dan wawasan penulis agar dapat mengaplikasiakan dalam pelayanan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap lansia tentang senam lansia.
2.     Manfaat Praktis
a.    Bagi Lansia
Diharapkan dapat lebih aktif dalam melakukan olahraga seperti senam lansia karena banyak manfaat bagi lansia
b.    Bagi Puskesmas
      Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukkan dalam upaya peningkatan senam lansia terutama di posyandu Desa Kanoman Kecamatan Cibeber.
c.    Bagi Institusi Pendidikan
                 Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumber referensi dan bahan kajian dalam penelitian selanjutnya.
d.    Bagi Peneliti
           Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh  serta untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar