Senin, 19 September 2016

BAB II



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Pengetahuan
1.  Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan merupkan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap suatu objek terjadi melalui pana indra manusia yakni penglihatan pendengaran, penciuman, rasa, dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Wawan& Dewi, 2010)
Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. (Budiman & Riyanto, 2013)
Jadi, pengetahuan adalah rasa tahu seseorang setelah melakukan penginderaan baik dengan cara melihat, mencium bau, meraba sesuatu, maupun mencicipi yang berujung pada rasa tahu mengenai suatu objek tertentu.
2.  Tingkat pengetahuan
                        Menurut Notoatmodjo (2010), tingkat pengetahuan dibagi menjadi 6 yaitu :
a.  Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b.   Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpresetasikan materi tersebut secara benar.
c.   Aplikasi (Application)
Aplikasi ini diartikan sebagai kemapuan untuk mengunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya).
d.Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian–bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f.  Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. (Wawan & Dewi, 2010)
3.   Faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Wawan, (2011) Pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a.   Faktor internal
1)  Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menunjukan arah cita-cita tertentu yang menentukan untuk mencapai keselamatan dan kebagiaan.
2)  Pekerjaan
Adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga.
3)  Umur
Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja.
b.   Faktor eksternal
1)  Faktor lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.
2)  Sosial budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.
4.   Cara memperoleh pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2010) cara memperoleh pengetahuan dibagi menjadi dua :
a.  Cara Tradisional atau Non Ilmiah
Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan antara lain meliputi:
1)  Cara Coba Salah (Trial and Error)
Cara ini paling tradisional yang pernah digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan yaitu melalui cara coba-coba. Cara ini coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan memecahkan masalah, apabila tidak berhasil dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah terselesaikan.
2)  Cara Kekuasaan/Otoriter
Sumber pengetahuan tersebut berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama pemegang pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan tersebut dapat diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik tradisi atau otoritas pemerintahan, otoritas pemerintahan agama maupun ahli ilmu pengetahuan, dimana prinsip ini orang lain berpendapat yang dikemukakan. 
b.  Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi masa lalu.
c.  Cara Modern/Ilmiah
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah.
5.  Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan seseorang dapat dilakukan dengan wawancara atau angket, yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas. (Notoatmodjo, 2010).

6.  Jenis Pengetahuan

1)     Pengetahuan Implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip.
2)  Pengetahuan Eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam wujud perilaku kesehatan. (Budiman & Riyanto, 2013)

B. Lansia
1.Pengertian
               Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan–lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normal sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Ini merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alami. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Bandiyah, 2009). Usia lanjut (lansia) adalah suatu kejadian yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikarunia usia panjang, terjadinya tidak bisa dihindari oleh siapapun. (Bandiyah, 2009).
               Usia lanjut atau lanjut usia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi keadaan tersebut dapat menimbulkan masalah sosial. Tanda–tanda masa tua disertai dengan kemuduran–kemunduran kemampuan kerja panca indera, gangguan fungsi alat–alat tubuh, perubahan psikologi serta adanya berbagai penyakit yang muncul (Widanti, 2010). Faktor yang mempengaruhi ketuaan meliputi : hereditas, nutrisi, status kesehatan, pengalaman hidup, lingkungan, stress (Bandiyah, 2009).
               Jenis–jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan, yaitu peningkatan (promotion), pencegahan (prevention), diagnosis dini dan pengobatan (early diagnosis and promt treatment), pembatasan kecacatan (disability limitation) serta pemulihan (rehabilitation). (Maryam, 2008).
2.  Klasifikasi Lansia
Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikaisi pada lansia.
a.  Pralansia (prasenilis)
Seseorang yang berusia antara 45-59 tahun.
b.  Lansia
Seseorang yang berusia yang berusia 60 tahun atau lebih.
c.   Lansia risiko tinggi
Seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan.
d.  Lansia potensial
Lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa.
e.  Lansia tidak potensial
Lansia yang tidak berdayamencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung pada bantuan orang lain. (Maryam, 2008)
3.   Macam–macam olahraga/latihan fisik yang baik bagi lansia Menurut Maryam (2008).
a.  Pekerjaan rumah dan berkebun;
b.  Berjalan–jalan;
c.  Jalan cepat, renang;
d.  Bersepeda;
e.  Senam.
C. Senam Lansia
1.    Pengertian
              Bagi lansia yang berumur lebih dari 60 tahun, perlu melaksanakan olahraga secara rutin untuk mempertahankan kebugaran jasmani dan memelihara serta mempertahankan kesehatan di hari tua. (Bandiyah, 2009). Senam lansia adalah olahraga ringan yang mudah dilakukan dan tidak memberatkan, yang dapat diterapkan pada lansia. Aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh lansia agar tetap bugar dan tetap segar, karena senam lansia ini mampu melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja lebih secara optimal dan membantu menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran didalam tubuh (Widianti, 2010).
2.    Manfaat
              Menurut Maryam (2008) manfaat melakukan senam secara teratur dan benar dalam jangka waktu yang cukup adalah sebagai berikut :
a.Memepertahankan atau meningkatkan taraf kesegaran jasmani yang baik;
b. Mengadakan koreksi terhadap kesalahan sikap dan gerak;
c. Membentuk sikap dan gerak;
d. Memperlambat proses degenerasi karena perubahan usia;
e.  Membentuk kondisi fisik (kekuatan otot, kelenturan, keseimbangan, ketahanan, keluwesan, dan kecepatan);
f.   Membentuk berbagai sikap kejiwaan (membentuk keberanian, kepercayaan diri, kesiapan diri, dan kesanggupan bekerja sama);
g.  Memberi rangsangan bagi saraf–saraf yang lemah, khususnya bagi lansia;
h.  Memupuk rasa tanggung jawab terhadat kesehatan diri sendiri dan masyarakat.
3.                                           Ketentuan–ketentuan Latihan Fisik
            Menurut Depkes RI dalam buku Maryam dkk (2008), latihan sebaiknya dilakukan pada kondisi yang baik, dimulai dengan yang ringan kemudian ditingkatkan secara bertahap, tidak boleh memaksakan diri melampaui kemampuan. Apabila merasa lelah, istirahat sejenak kemudian dilanjutkan lagi.
            Menurut Maryam (2008) ketentuan latihan fisik yaitu :
a.   Latihan fisik harus disenangi/diminati;
b.   Latihan fisik harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan (ada kelainan penyakit atau tidak);
c.   Latihan fisik seharusnya bersifat aerobic, yaitu berlangsung lama dan ritmis (berulang) seperti berjalan kaki, joging, bersepeda, renang, dan senam aerobic;
d.   Pada awal latihan harus dilakukan pemanasan dahulu, peregangan kemudian inti;
e.   Sebelum dan sesudah melakukan latihan, minumlah terlebih dahulu untuk menggantikan keringat yang hilang;
f.    Latihan dilakukan minimal 2 jam setelah makan agar tidak menggangu pencernaan;
g.   Latihan diawasi seorang pelatih agar tidak terjadi cidera;
h.   Pakaian yang digunakan terbuat dari bahan yang ringan dan tipis serta jangan memakai pakaian tebal dan sangat menutup badan;
i.    Jenis sepatu sebaiknya sepatu yang mempunyai sol atau bantalan yang tebal pada daerah tumit;
j.    Waktu latihan sebaiknya pagi dan sore hari;
k.   Tempat latihan sebaiknya berupa lapangan atau taman;
l.    Landasan tempat latihan tidak terlalu keras dan di anjurkan berlatih di atas tanah atau rumput.
4.      Dosis Latihan Fisik
Menurut Maryam dkk (2008) dosis latihan fisik yaitu :
a.Lama latihan minimal 15–45 menit secara kontinu.
b.Frekuensi latihan 3–4 kali/minggu.
5.  Gerakan Senam Kebugaran Jasmani Pada Lansia
            Menurut Depkes RI dalam buku Maryam dkk (2008), latihan fisik (senam lansia) memiliki 8 jenis latihan gerakan, meliputi :
a.Latihan kepala dan leher
1)  Putar kepala ke sampan kiri, kemudian ke kanan, sambil melihat ke bahu.
Gambar 2.1 Gerakan memutar kepala.
2)  Miringkan kepala ke bahu sebelah kanan, lalu ke kiri.
Gambar 2.2 Gerakan memiringkan kepala.

b.  Latihan bahu dan lengan.
1)  Angkat kedua bahu keatas mendekati telingan, kemudian turunkan kembali perlahan–lahan.
Gambar 2.3 Gerakan mengangkat bahu.
2)  Tepukkan kedua telapak tangan dan regangkan lengan kedepan setinggi bahu. Pertahankan bahu tetap lurus dan kedua tangan bertepuk kemudian angkat keatas kepala.
Gambar 2.4 Gerakan meregangkan tangan ke depan.
3)  Dengan satu tangan menyentuk bagian belakang dari leher, raihlah punggung anda sejauh mungkin yang dapat dicapai.
Gambar 2.5 Gerakan tangan menyentuh punggug
4)  Letakan tangan di pinggang, kemudian coba merai keatas sedapatnya.
c.Latihan tangan
1)  Letakkan telapak tangan tertelungkup diatas meja, lebarkan jari-jari dan tekan ke meja.
Gambar 2.6 Gerakan melebarkan telapak tangan
2)  Balikan telapak tangan, tarik ibu jari sampai menyentuk jari kelingking, kemudian tarik kembali, lanjutkan dengan menyentuh tiap–tiap jari.
Gambar 2.7 Gerakan membalikan telapak tangan
3)  Kepalkan tangan sekuatnya kemudian regangkan jari–jari selurus mungkin.
Gambar 2.8 Gerakan mengepalkan tangan
d.  Latihan punggung
1)  Dengan tangan disamping, bengkokan badan ke samping kanan dan kiri.
Gambar 2.9 Gerakan membengkokan badan ke samping kanan  dan
kiri
2)  Letakan tangan di pinggang dan tahan kedua kaki, putar tubuh dengan melihat bahu ke kiri lalu ke kanan.
Gambar 2.10 Gerakan memutar tubuh kebelakang
3)  Posisi tidur terlentang dengan lutut dilipat dan telapak kaki datar pada tempat tidur, regangkan kedua lengan kesamping. Tahan bahu pada tempatnya dan jatuhkan kedua lutut ke samping kiri dan kanan.
Gambar 2.11 Gerakan meregangkan Lutut ke samping kanan dan kiri
                       tubuh.
4)  Tepuk kedua tangan kebelakan, kemudian regangkan kedua bahu kebelakang.
Gambar 2.12 Gerakan menepuk tangan ke belakang tubuh.
e.  Latihan paha
1)  Latihan ini dapat dilakukan dengan berdiri tegak atau dengan posisi tidur. Lipat satu lutut sampai dada, lalau kembali lagi. Bergantian dengan kaki sebelahnya.
Gambar 2.13 Gerakan melipat lutut ke arah dada.
2)  Regangkan kaki kesamping sejauh mungkin, kembali lagi, kerjakan satu per satu.
Gambar 2.14 Gerakan meregangkan kaki.
3)  Duduklah dengan kaki lurus kedepan, tekan kedua lutut pada tempat tidur sampai bagian belakang lutut menyentuh tempat tidur.
Gambar 2.15 Gerakan meluruskan kaki dan menekan lutut.
4)  Tahan kaki lurus tanpa membengkokan lutut, tarik telapak kaki kearah badan kemudian regangkan lagi.
Gambar 2.16 Gerakan menahan kaki tetap lurus dan meregangkan
telapak kaki.


5)  Tekuk dan regangkan jari–jari kaki tanpa menggerakan lutut.
Gambar 2.17 Gerakan menekuk dan meregangkan jari.
6)  Tahan permukaan lutut tetap lurus, putar telapak kaki ke dalam sehingga permukaannya saling bertemu, kemudian kembali lagi.
Gambar 2.18 Gerakan memutar telapak kaki.
7)  Berdiri dengan tegak dan berpegangan pada satu tumpuan, angkat tumit tinggi–tinggi kemudian putarkan tumit.
Gambar 2.19 Gerakan mengankat tumit dan memutar tumit.
f. Latihan pernafasan
         Duduklah di kursi dengan punggung bersandar dan bahu relaks. Tarik nafas dalam–dalam, lalu keluarkan perlahan–lahan.
g.  Latihan muka
1)  Kerutkan muka kuat–kuat kemudian tarikan alis keatas.
Gambar 2.20 Gerakan mengerutkan muka.
2)  Tutup mata kuat–kuat kemudian buka lebar–lebar.
Gambar 2.21 Gerakan membuka dan menutup mata.
3)  Kembangkan pipi keluar sedapatnya kemudian hisap kedalam.
Gambar 2.22 Gerakan mengembangkan dan mengisap pipi.
4)  Tarik bibir kebelakang sedapatnya kemudian ciutkan dan bersiul.
Gambar 2.23 Gerakan menarik bibir dan bersiul
D.   Pengetahuan Remaja Tentang Gizi Seimbang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yani (2015) di posyandu Desa Ngargorejo, Jawa Timur menunjukkan bahwa dari 47 orang (100%) lansia terdapat orang (37%) lansia  yang memilliki pengetahuan baik, dan yang memiliki pengetahuan cukup dan kurang sebanyak 28 orang (63%). Hal ini sejalan dengan pendapat Suprihatin, (2015) yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan, umur dan pekerjaan sebagai faktor pendorong seseorang memiliki pengetahuan. Pengetahuan terhadap pegertian senam lansia  berpengaruh terhadap sikap dan tindakan seseorang dalam melakukan senam lansia yang akan mempengaruhi kondisi  fisiknya. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang, maka akan semakin baik kondisi fisiknya. Tingkat pengetahuan lansia tentang senam lansia yaitu kurang 34 orang (73%). Terlihat dari pertanyaan pertama yaitu senam lansia adalah olahraga ringan yang mudah dilakukan dan tidak memberatkan, yang dapat diterapkan pada lansia senam lansia mampu dijawab benar oleh 14 orang (30%) dan salah hanya 20 orang (43%). Item pernyataan yang paling bayak dijawab benar sebanyak  orang 38 orang (82%) yaitu pertanyaan senam lansia baiknya dilakukan minimal 2 jam setelah makan, pertanyaan ini merupakan salah satu dari cara melakukan latihan fisik bagi lansia. Selanjutnya pertanyaan yang paling banyak dijawab salah oleh lansia sebanyak 41 orang (87%) yaitu latihan fisik hanya dilakukan dengan frekuensi latihan 1-2 kali/minggu. Pada dasarnya lansia belum memahami tentang dosis latihan fisik, lansia menganggap bahwa latiahn fisik seperti senam lansia cukup dilakukan 1-2 kali dalam seminggu. Oleh karena itu lansia harus mempunyai pemahaman yang baik tentang senam lansia. Maka dari itu pendidikan kesehatan harus lebih ditingkatkan terutama tentang senam lansia agar lansia lebih aktif mengikuti senam lansia. kurangnya informasi mengenai kesehatan disebabkan oleh tidak optimalnya penggunaan media massa dalam  baik itu secara langsung melalui penyuluhan kesehatan maupun tidak langsung melalui media masa.