TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOMOTOR
SEJAK LAHIR HINGGA REMAJA
Perkembangan motorik
anak berkembang sejak dalam kandungan ibu. Kemudian semakin pesat berkembang
setelah janin dilahirkan. Perkembangan motor (motor development) menurut
Muhibin Syah (2008;60) merupakan proses perkembangan yang progresif dan
berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor
skills).
Tahap
perkembangan psikomotor menurut pandangan hotistik dalam tabel perkembangan
yang terdapat pada buku Human Development (Papalia, Old dan Feldman,
2009) sejak masa lahir hingga dewasa adalah :
1.
Usia lahir sampai 1 bulan (Neonatal)
Bayi pada usia ini tidur sepanjang
hari; membangun siklus tidur-bangun. Seluruh indra berkembang secara sangat
cepat.
2.
Usia 1-6 bulan
Pada usia
tersebut bayi mulai meraih dan menggenggam berbagai objek, mengangkat dan
menolehkan kepalanya, bisa berguling-guling serta merangkak atau merayap.
3.
Usia 6-12 bulan
Bayi mulai duduk tanpa adanya
penopang, berdiri sambil dipegangi, kemudian bisa berdiri sendiri.
Kemudian selanjutnya bisa melangkah untuk pertama kalinya.
4.
Usia 12-18 bulan
Anak sudah bisa berjalan dengan
baik. Selain itu pada usia ini anak mampu mendirikan menara dari balok.
5.
Usia 18-30 bulan
Saat usia 18-30 bulan anak dapat berjalan
tegak dan mulai mencorat-coret tanpa arti.
6.
Usia 30-36 bulan
Biasanya pada usia ini anak dapat
melompat.
7.
Usia 3-4 tahun
Anak dapat menyalin bentuk-bentuk
dan menggambar desain. Selain itu anak dapat menuangkan cairan, makan dengan
perangkat makan dan menggunakan toilet sendiri. Meskipun belum mandiri anak
biasanya dapat menggunakan baju dengan bantuan.
8.
Usia 5-6 tahun
Pada usia tersebut anak dapat turun
tangga,melompat, berjingkrak dan mengubah arah. Selain itu anak dapat
mengenakan pakaian tanpa dibantu.
9.
Usia 7-8 tahun
Keseimbangan dan control tubuh pada
usia ini meningkat. Selain itu kecepatan dan kemampuan melempar meningkat.
10. Usia 9-11
tahun
Ketika anak mencapai usia ini,
rata-rata anak perempuan mulai menunjukkan perubahan pubertas kemudian pertumbuhan
masa remaja mulai terjadi secara pesat.
11. Usia 12-15
tahun
Rata-rata anak laki-laki pada usia
ini mulai menunjukkan perubahan pubertas kemudian pertumbuhan masa remaja mulai
terjadi secara pesat.
12. Usia 16-20
tahun
Pada usia ini mengiringi masa pubertas,
sistem penentu sirkadian dan ritme biologis beralih, mempengaruhi siklus
tidur-bangun.
Tahap perkembangan psikomotor dari
lahir hingga 16 bulan menurut Santrock (2007:128) dalam “Life Span
Development” dapat dilihat dari diagram berikut ini :
TAHAP
PERKEMBANGAN KOGNITIF SEJAK LAHIR HINGGA REMAJA
Pada saat seorang bayi terlahir di
dunia, ia sudah diciptakan dengan milliaran jaringan sel otak yang sangat luar
biasa. Hal ini menjadi pondasi penting bagi perkembangan kognitifnya kelak.
Perkembangan kognitif (cognitive development) dalam buku Human
Development (Papalia, Old dan Feldman, 2009;12) didefinisikan sebagai suatu
pola perubahan dalam kemampuan-kemampuan mental, seperti; belajar, perhatian,
ingatan, bahasa, berpikir, penalaran dan kreativitas.
Sedangkan menurut Muhibin Syah
(2008;60) dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru” perkembangan
Konitif (cognitive development) adalah perkembangan fungsi intelektual
atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak.
Selain itu menurut Desmita (2009),
perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang
berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologis yang berkaitan
dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Sehingga kemampuan
kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks
serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah.
Menurut Piaget berbagai perubahan
kualitatif pada pikiran muncul antara masa bayi dan masa remaja (dalam Papalia,
Old dan Feldman, 2009;42). Berikut ini beberapa teori tahap-tahap perkembangan
kognitif sejak lahir hingga remaja menurut tokoh-tokoh, yaitu antara lain ;
I. Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget
1. Masa Sensori Motor (0-2 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem pengindraan dan
aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik
atas rangsangan-rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks misalnya
refleks menangis, dan lain-lain. Refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi
gerakan-gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan (Sunarto, 2008:24)
Piaget membagi tahap sensori motor dalam enam periode,
yaitu :
a. Refleks (umur 0-1 bulan)
Tingkah laku bayi kebanyakan bersifat refleks, spontan
tidak sengaja, dan tidak terbedakan.
Contoh: refleks menangis, mengisap, menggerakkan
tangan dan kepala, mengisap benda didekatnya, dan lain-lain.
b. Kebiasaan (umur 1-4 bulan)
Kebiasaan dibuat dengan dengan mencoba-coba dan mengulang-ulang
suatu tindakan.
Contoh: seorang bayi mengembangkan kebiasaan mengisap
jari. Awalnya ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulut, lalu pelan-pelan
mencoba dan akhirnya bisa. Setelah itu menjadi lebih cepat melkukan kembali.
Maka itu, terjadilah suatu kebiasaan mengisap ibu jari.
c. Reproduksi kejadian yang menarik
(4-8 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan
memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya.
Misalnya seorang bayi diletakkan diatas ranjang dan
diberi mainan yang akan berbunyi jika talinya dipegang. Suatu saat ia main-main
dan menarik tali itu. Ia mendengar bunyi yang bagus dan ia senang. Maka, ia
akan menarik tali itu agar muncul bunyi yang sama.
d. Koordinasi skemata (8-12
bulan)
Seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil
tindakannya.
Contoh: seorang bayi diberi mainan tetapi letaknya
jauh. Di dekatnya terdapat tongkat kecil dan dia akan menggunakannya untuk
menggapai mainan tersebut.
e.
Eksperimen (12-18 bulan)
Masa anak mulai mengembangkan cara-cara
baru untuk mencapai tujuan dengan eksperimen.
Contoh: anak diberi makanan yang diletakkan di meja.
Ia akan mencoba menjatuhkan makanan itu dan memakannya.
f. Representasi (18-24
bulan)
Seorang anak sudah mulai menemukan cara-cara baru yang
tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal tetapi juga dengan
koordinasi internal dalam gambarannya.
Misal: Lauren mencoba membuka pintu kebun. Ia tidak
berhasil karena pintu disangga oleh sebuah kursi diseberangnya. Ia pergi di
sisi lain dan memindahkan kursi yang menghambat tersebut, padahal ia tidak
melihat. Dari kejadian tersebut, tampak jelas bahwa lauren dapat mengerti
apabila penyebab pintu itu adalah sesuatu yang berada dibelakang pintu
tersebut, meskipun ia tidak melihat.
Berikut ini table sub tahapan sensorimotor menurut
Piaget dalam buku Life Span Development (Santrock, 2007 ; 149 ) :
2. Masa Pra-Operasional (2-7 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan
simbol yang mewakili suatu konsep. Misal, seseorang anak yang pernah melihat
dokter berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008:24).
Piaget membagi perkembangan kognitif tahap
praoperasional dalam dua bagian:
1.
Umur 2-4 tahun, dicirikan oleh
perkembangan pemikiran logis
Piaget membedakan antara “simbol” dan “tanda” dengan
“indeks” dan sinyal.dalam pengertian simbol dan tanda (sign) dibedakan antara
objek yang ditandakan dengan tandanya sendiri misalnya anak bermain pasar
pasaran dengan uang dari daun.”daun”di sini sebagai tanda ,sedangkan
“uang”adalah yang di tanda kan.dalam kenyataan daun dan uang tidak sama.dalam
pengertian”indeks” dan “sinyal” tidak di bedakan antara tanda dan objek yang di
tandakan.
Piaget juga membedakan antara “simbol” dan
“tanda”. Simbol adalah suatu hal yang lebih menyamai dengan yang di simbolkan
seperti gambaran dan bayangan . tanda lebih merupakan sembarang benda yang di
guna kan tanpa ada kesamaan dengan yang ditandakan.
2.
Umur 4-7 tahun, dicirikan oleh
perkembangan pemikiran intuitif
Menurut piaget (1981) pemikiran anak pada umur 4 -7
tahun berkembang pesat secara bertahap ke arah konsep tualisasi. Ia berkembang
dari tahap simbolis dan prakonseptual ke permulaan oprasional . tetapi
perkembangan itu belum penuh karena anak masih mengalami oprasi yang tidak lengkap
dengan suatu bentuk pemikiran yang semi simbolis atau penalaran intuitif yang
tidak logis. Dalam hal ini seseorang anak masih mengambil keputusan hanya
dengan aturan-aturan intuitif yang masih mirif dengan tahap sensorimotor
Pemikiran intuitif adalah persepsi langsung akan dunia
luar tetapi tanpa di nalar terlebih dahulu. kelemahan pemikiran ini adalah
bahwa pemikiran nya searah
(centred) dimana anak hanya dapat melihat dari satu
segi saja.dalam pemikiran ini anak belum dapat melihat pluralitas gagasan tetapi
hanya satu persatu. apabila beberapa gagasan di gabungkan pemikiran anak
menjadi kacau. Pada tahap ini anak belum dapat berpikir decentred yaitu
melihat berbagai segi dalam satu kesatuan.
3.
Tahap Operasional Konkret (7-11
tahun)
Tahap ini dicirikan dengan perkembangan sistem
pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Tahap operasi
konkret tetap ditandai dengan asanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang
kelihatan nyata/konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang
yang konkret, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis.
4.
Tahap Operasional Formal (11
tahun-dewasa)
Menurut Piaget ketika tahap ini
remaja memasuki level tertinggi perkembangan kognitif. Tidak lagi
terbatas oleh disini dan sekarang, mereka sudah dapat memahami waktu historis
dan ruang luar angkasa (dalam Human Development, Papalia, Old, Feldman,
2008;554).
Selain itu pada tahap ini individu
dapat berpikir secara abstrak, menangani situasi-situasi perumpamaan dan
berpikir mengenai berbagai kemungkinan (dalam Human Development,
Papalia, Old, Feldman, 2009 ; 46). Sehingga ketika masa ini individu
sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoretis formal
berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan
lepas dari apa yang diamati saat itu.
A. Perkembangan
Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik merupakan
perkembangan terkait dengan perilaku motorik (koordinasi fungsional neuromuscular
system) dan fungsi psikis (kognitif, afektif dan konatit). Dua prinsip
perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku psikomotorik ialah
bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks,
dan dari yang kasar dan global (grass bodily movements) kepada yang
harus dan spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements).
Afektif
Afektif menurut kamus besar bahasa
indoensia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta; mempengaruhi keadaan
perasaan dan emosi; mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan
(tentang tata bahasa atau makna).
Pentahapan psikososial manusia
menurut Erikson;
1. Tahap oral (0-1 tahun)
Pada tahap ini zona utamanya adalah
mulut dan aktivitas inderawi. Tahapan ini secara umum disebut sebagai tahap
kepercayaan versus ketidakpercayaan mendasar. Bayi berusaha untuk menemukan
sejumlah konsistensi, prediksi dan realibilitas dalam tindakan pengasuhan. Jika
orang tua cukup konsisten dan dapat diandalkan maka bayi mulai mengembangkan
kepercayaan mendasar kepada orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak bisa
diprediksi dan tidak bisa dipercaya sehingga tidak akan pernah hadir jika
dibutuhkan maka yang berkembang adalah rasa tidak percaya. Bayi yang bisa
menyeimbangkan rasa percaya dan tidak percaya ini dengan berhasil maka akan
muncul harapan. Harapan sebagai sebuah ekspektasi yang sekalipun terdapat rasa
frustasi, marah atau kecewa, hal-hal yang baik tetap akan terjadi dimasa depan.
Harapan akan memampukan anak bergerak maju ke dunia luar, menyambut tantangan
baru.
2. Tahap anal (1-3 tahun)
Pada tahap ini anak memperoleh
kontrol atas otot-otot perutnya sehingga dapat menahan atau menghilangkan
dorongan untuk buang hajat sesuai kehendak mereka. Bentuk dasar tahapan ini
adalah menahan atau melepaskan. Tahapan umum pada tahapan ini adalah otonomu
versus rasa malu dan ragu-ragu. Anak berusaha melatih kemampuan memilih,
melatih kehendak mereka (otonomi). Penekanan yang kuat terhadap kata “tidak”,
anak menolak semua kontrol eksternal atas dirinya. Bagi orang tua anak tidak
boleh mengatakan tidak, karena mereka hidup dalam masyarakat dan harus
menghargai keinginan orang lain. Otonomi muncul dari dalam sebagai sebuah
pendewasaan biologis yang mengembangkan kemampuan anak untuk melakukan segala
hal dengan caranya sendiri. Sedangkan rasa malu dan ragu-ragu muncul dari
kesadaran akan ekspektasi dan tekanan sosial, kesadaran bahwa dirinya tidak
begitu berkuasa sehingga orang tua dapat mengontrol dan bertindak lebih baik
dari dia. Bagi anak yang mampu menyeimbangkan rasio otonomi dan rasa malu dan
ragu-ragu maka akan muncul kehendak yang kokoh. Kehendak sebagai
kebulatan tekad yang tidak bisa dipatahkan untuk melatih pilihan bebas dan
pengendalian diri. Kemampuan pengendalian diri yang percaya bahwa pernting bagi
anak untuk belajar mengontrol impuls mereka sendiri dan menentukan apa yang
tidak pantas dilakukan. Jadi anak yang harus berinisiatif demikian bukan
kekuatan eksternal.
3. Tahap falik (3-6 tahun)
Pada tahap ini anak memfokuskan
ketertarikannya pada alat kelaminnya dan menjadi sangat ingin tahu organ
kelaminnya. Anak juga sudah mulai membayangkan dirinya dalam peran orang
dewasa, bahkan berani bersaing dengan salah satu orang tuanya untuk memperoleh
kasih sayang. Bentuk utama tahap ini adalah intrusi yaitu keberanian,
keingintahuan dan persaingan dalam diri anak. Tahapan umum dalam tahap ini
yaitu inisiatif versus rasa bersalah. Inisiatif yang berarti sama dengan
intrusi, berarti pergerakan kedepan. Lewat inisiatif anak membuat rencana,
menetapkan tujuan, dan mempunyai semangat untuk mencapainya, yang pada akhirnya
membentuk ambisi tertentu. Namun dalam perjalannya anak mendapati bahwa ambisi
tersebut melanggar aturan sosial yang ada dalam masyarakat sehingga rasa
bersalah itu muncul pengendalian diri yang baru dimana anak berusaha untuk
mencari cara menghubungkan ambisi dengan tujuan sosial. Orang tua dapat
membantu proses ini dengan memperlunak otoritas dan memperbolehkan anak
berpartisipasi untuk menghadapi kehidupan. Lewat cara inilah maka penyimbangan
terhadap inisiatif dan rasa bersalah dapat membentuk “tujuan” yaitu keberanian
untuk memimpikan dan mengejar tujuan yang bernilai.
4. Tahap latensi (6-11 tahun)
Pada tahap ini anak belajar untuk
menguasai kemampuan kognitif dan sosial yang penting. Tahap umum dalam tahapan
ini adalah industry versus inferioritas. Anak melupakan harapan dan keingian
masa lalu, yang seringkali merupakan harapan dan keinginan keluarganya, dan
sangat ingin mempelajari kemampuan budaya masyarakat (industri). Anak belajar
untuk bekerja sama dan bermain bersama teman sebayanya. Keinginan ini kemudian dibatasi
dengan perasaan berlebih-lebihan karena ketidaktepatan dan inferioritas.
Inferior yang terlalu mendalam akan berakar dan menyebabkan anak tidak
memperoleh talentanya. Misalnya, olok-olok dan rasa sakit hati pada masa
sekolah akan membentuk anak untuk tidak berhasil memperoleh dirinya dengan
penuh. Guru dapat menyelesaikan konflik ini dengan membentuk rasa percaya
terhadap diri fan dihargai komunitas. Keberhasilan menyeimbangkan industry dan
inferioritas menghasilkan kompetensi, yaitu sebuah latihan intelegensia dan
kemampuan secara bebas dalam menyelesaikan tugas, tanpa diganggu perasaan
inferioritas yang berlebihan.
5. Tahap genital (11 tahun – dewasa)
Pada tahap ini remaja membangun
pembahaman baru mengenai dirinya, perasaan tentang dirinya dan apa tempatnya di
tatanan sosial yang lebih besar. Tahap utama dalam pentahapan ini adalah
identitas versus kebingungan peran. Remaja mencari identitas dirinya, merasa
bahwa implus-implus tidak dapat menyatu dengan dirinya, dan pertumbuhan fisik
yang sangat cepat telah menciptakan rasa kebingungan identitas. Untuk alasan
inilah maka banyak remaja yang menghabiskan banyak waktunya didepan kaca dan
memperhatikan penampilannya. Upaya ini dilakukan untuk menghilangkan
ketakutannya tidak terlihat baik atau tidak memenuhi harapan orang lain.
Ketidakpastian remaja akan dirinya, diidentifikasi dengan masuknya remaja dalam
geng tertentu yang dianggap dapat menjelaskan dirinya yang sebenarnya. Remaja
membentu identitasnya dengan pengidentifikasian, yang secara tidak sadar dilihat
dari identifikasi diri yang tampak pada kita sehingga menjadikan diri kita
seperti mereka. Oleh kerena itu untuk dapat menemukan diri sendiri seharusnya
remaja melakukan penarikan diri (moratorium psikososial). Pencarian diri
tersebut kemudian membawa remaja pada komitmen permanen sehingga keberhasilan
pada tahap ini membentuk kesetiaan yaitu sebuah kemampuan untuk mempertahankan
loyalitas yang sudah dinanti sejak dulu.
Psikomotor
Psikomotor secara harfiah berarti
sesuatu yang berkenaan dengan gerak fisik yang berkaitan dengan proses mental
(kamus besar bahasa Indonesia).
Adapun tahapan perkembangan motorik
adalah sebagai berikut;
1. Tahap gerakan refleks (0- 1
tahun)
Bentuk gerakan pada tahapan ini
tidak direncanakan, merupakan dasar dari perkembangan motorik. Melalui gerak
refleks bayi memperoleh informasi tentang lingkungannya, seperti reaksi
terhadap sentuhan, cahaya, suara. Gerakan ini berkaitan dengan meningkatnya
pengalaman anak untuk mengenal dunia pada bulan-bulan pertama mengenal kehidupan
setelah kelahiran. Oleh karena itu kegiatan bermain sangat penting untuk
menolong anak belajar teng dirinya dan dunia luar. Tahapan gerak refleks
terbagi atas dua bentuk yaitu;
1. Refleks sederhana (0-4 bulan)
Gerak ini dikelompokkan sebagai
kumpulan informasi, mencari makanan, dan respon melindungi. Mengumpulkan
informasi membutuhkan rangsangan untuk berkembang. Kemampuan mencari makanan
dan respon melindungi merupakan bentuk alami yang dimiliki manusia. contoh geak
refleks sederhana seperti, bertumbuh dan menghisap.
2. Refleks tubuh (4 bulan – 1 tahun)
Refleks ini berkaitan dengan saraf
motorik untuk keseimbangan, gerakan berpindah (lokomotor) dan manipulative
(menjalankan) yang kemudian akan terkontrol. Refleks langkah dasar dan
merangkak terkait dengan gerakan dasar untuk berjalan.
Perkembangan motorik pada tahap
refleks terdiri pula dalam dua tingkatan yang saling bertindihan, yaitu tingkat
encoding (mengumpulkan) informasi dan decoding (memproses) informasi. Pembagian
ini pada dasarnya sama dengan gerak refleks sederhana dan refleks tubuh.
2. Tahap gerakan permulaan (lahir-2
tahun)
Gerak permulaan ini merupakan bentuk
gerak sukarela yang pertama. Dimulai dari lahir sampai usia 2 tahun. Gerakan
permulaan membutuhkan kematangan dan berkembang berurutan. Urutan ini terbentuk
alami. Rata-rata kemampuan ini didapat dari anak ke anak, meskipun secara
biologis, dan lingkungan sangat berperan. Gerakan ini ada sebagai kemampuan
untuk bertahan hidup dan merupakan gerakan yang mempersiapkan anak untuk
memasuki tahap gerakan dasar. Beberapa gerakan keseimbangan seperti mengontrol
kepala, leher, dan otot badan. Gerakan manipulative seperti menggapai,
menggenggam, dan melepaskan; dan gerakan lokomotor seperti, merayap, merangkak,
dan berjalan. Gerakan ini terbagi atas dua tahapan, yaitu;
1.
Tahap refleks tertahan (lahir-1
tahun)
Tahap ini
dimulai dari lahir. Peningkatan gerakan bayi ini dipengaruhi oleh perkembangan
cortex. Pada tahap ini gerakan sederhana dan gerakan tubuh digantikan dengan
gerakan sukarela, namun berbeda dan terpadu karena saraf motorik bayi masih
dalam taraf gerakan permulaan. Jika bayi ingin menggapai benda, mereka akan
melakukan gerakan menyeluruh yang dilakukan tangan, lengan, bahu, dan ketika
menggenggam. Proses bergeraknya tangan dengan penglihatan terhadap objek,
meskipun sukarela, namun terkontrol.
2. Tahap prekontrol (1 – 2 tahun)
Usia 1 tahun, anak mulai lebih baik
mengontrol gerakannya. Proses ini menggabungkan antara sensori dan sistem
motorik dan memadukan persepsi dan informasi motorik kedalam kegiatan yang
lebih bermakna. Pada tahap ini, anak belajar untuk dapat menyokong
equilibriumnya, untuk memanipulasi objek, dan untuk melakukan gerakan lokomotor
melalui lingkungan untuk mengontrol perkembangannya.
3. Tahap gerakan dasar (2-7 tahun)
Gerakan ini muncul ketika anak aktif
bereksplorasi dan bereksperimen dengan potensi gerak yang dimilikinya. Tahap
ini merupakan tahap menemukan bagaimana menunjukkan berbagai gerak
keseimbangan, lokomotor dan manipulative, maupun penggabungan ketiga gerakan tersebut.
anak mengembangkan gerakan dasar ini untuk belajar bagaimana merespon kontrol
motorik dan kompetensi gerakan dari berbagai rangsangan. Gerakan dasar ini juga
digunakan sebagai dasar pengamatan tingkah laku anak. Beberapa kegiatan
lokomotor seperti melempar dan menangkap, dan kegiatan keseimbangan seperti
berjalan lurus dan keseimbangan berdiri dengan satu kaki merupakan gerakan yang
dapat dikembangkan semasa kanak-kanak. Tahap ini terbagi atas 3 tingkat, yaitu;
1. Tingkat permulaan (2-3 tahun)
Tingkatan ini menunjukkan orientasi
tujuan pertama anak pada kemampuan permulaan. Gerakan ini dicirikan dengan
kesalahan dan kegagalan bagian gerakan secara berurutan, kelihatan membatasi
atau berlebihan menggunakan anggota tubuh, tidak mampu mengikuti ritmk dan
koordinasi. Gerakan keseimbangan, lokomotor, dan manipulative benar-benar pada
tingkat permulaan.
2. Tingkat elementary (4-5 tahun)
Tingkatan ini menunjukkan kontrol
yang lebih baik dan gerakan permulaan koordinasi ritmik yang lebih baik pula.
Gerak spasial dan temporal lebih meningkat, namun secara umum masih kelihatan
membatasi atau berlebihan, meskipun koordinasi lebih baik. Intelegensi dan
fungsi fisik anak semakin meningkat melalui proses kematangan.
3. Tingkat mature (6-7 tahun)
Tingkatan ini dicirikan oleh
efisiensi secara mekanik, koordinasi dan penampilan yang terkontrol. Keahlian
manipulative semakin berkembang dalam mengkoordinasi secara visual dan motorik,
seperti menangkap, menendang, bermain voli, dsb).
4. Tahap gerakan keahlian (7-14 tahun)
Tahapan ini merupakan tahap gerakan
yang semakin bervariasi dan kompleks, seperti gerakan sehari-hari, rekreaasi
dan olahraga baru. Periode ini merupakan tahap dimana keahlian keseimbangan
dasar, gerak lokomotor dan manipulative meningkat, berkombinasi, dan
terelaborasi dalam berbagai situasi. Misalnya gerakan dasar melompat dan
meloncat, dikombinasikan kedalam kegiatan menari atau lompat-jongkok-berjalan
dalam mngikuti jejak. Tahapan ini terbagi atas 3 tahap, yaitu;
1. Tahap transisi (7-10 tahun)
Tahap ini indivdu mulai
mengkombinasi dan mengunakan kemampuan dasarnya dalam kegiatan olahraga.
Misalnya, berjalan mengikuti garis lurus, lompat tali, bermain bola, dll.
Keahlian pada tahap ini lebih kompleks dan spesifik.
2. Tahap aplikasi (11-13 tahun)
Pada tahap ini anak memiliki
keterbatasn dalam kemampuan kognitif, afektif dan pengalaman, dikombinasikan
dengan keaktifan anak secara alami mempengaruhi semua aktivitasnya. Peningkatan
kognitif dan pengalaman anak dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk belajar
dan peran anak dalam berbagai jenis aktifitas, indivudu dan lingkungan.
Keahlian kompleks dibentuk dan digunakan dalam pertandingan, kegiatan memimpin
dan memilih olahraga.
3. Tahap
lifelong utilisasi (14 tahun sampai dewasa)
Tahapan ini merupakan puncak proses
perkembangan motorik dan dicirikan dengan gerakan yang sering dilakukan
sehari-hari. Minat, kompetensi, dan pilihan mempengaruhi, selain faktor uang
dan waktu, peralatan dan fasilitas, fisik dan mental, bakat, kesempatan,
kondisi fisik dan motivasi pribadi.
Gratis Casino - Gratis Casino Hotel | Mapyro
BalasHapusGratis Casino Hotel in 익산 출장마사지 Gratis, Italy is a 5 star hotel in Gratis with 의정부 출장샵 5 views of High St. Louis, 속초 출장안마 and it 동두천 출장안마 is a 6 story high street resort with a casino 서산 출장안마 and