Kamis, 04 Februari 2016

TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOMOTOR SEJAK LAHIR HINGGA REMAJA


TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOMOTOR  SEJAK LAHIR HINGGA REMAJA
          
      Perkembangan motorik anak berkembang sejak dalam kandungan ibu. Kemudian semakin pesat berkembang setelah janin dilahirkan. Perkembangan motor (motor development) menurut Muhibin Syah (2008;60) merupakan proses perkembangan yang progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skills).
       Tahap perkembangan psikomotor menurut pandangan hotistik dalam tabel perkembangan yang terdapat pada buku Human Development (Papalia, Old dan Feldman, 2009) sejak masa lahir hingga dewasa adalah :
1.      Usia lahir sampai 1 bulan (Neonatal)
Bayi pada usia ini tidur sepanjang hari; membangun siklus tidur-bangun. Seluruh indra berkembang secara sangat cepat.
2.      Usia 1-6 bulan
Pada usia tersebut bayi mulai meraih dan menggenggam berbagai objek, mengangkat dan menolehkan kepalanya, bisa berguling-guling serta merangkak atau merayap.
3.      Usia 6-12 bulan
Bayi mulai duduk tanpa adanya penopang, berdiri sambil dipegangi, kemudian  bisa berdiri sendiri. Kemudian selanjutnya bisa melangkah untuk pertama kalinya.
4.      Usia 12-18 bulan
Anak sudah bisa berjalan dengan baik. Selain itu pada usia ini anak mampu mendirikan menara dari balok.
5.      Usia 18-30 bulan
Saat usia 18-30 bulan anak dapat berjalan tegak dan mulai mencorat-coret tanpa arti.
6.      Usia 30-36 bulan
Biasanya pada usia ini anak dapat melompat.
7.      Usia 3-4 tahun
Anak dapat menyalin bentuk-bentuk dan menggambar desain. Selain itu anak dapat menuangkan cairan, makan dengan perangkat makan dan menggunakan toilet sendiri. Meskipun belum mandiri anak biasanya dapat menggunakan baju dengan bantuan.
8.      Usia 5-6 tahun
Pada usia tersebut anak dapat turun tangga,melompat, berjingkrak dan mengubah arah. Selain itu anak dapat mengenakan pakaian tanpa dibantu.


9.      Usia 7-8 tahun
Keseimbangan dan control tubuh pada usia ini meningkat. Selain itu kecepatan dan kemampuan melempar meningkat.
10.  Usia 9-11 tahun
Ketika anak mencapai usia ini, rata-rata anak perempuan mulai menunjukkan perubahan pubertas kemudian pertumbuhan masa remaja mulai terjadi secara pesat.
11.  Usia 12-15 tahun
Rata-rata anak laki-laki pada usia ini mulai menunjukkan perubahan pubertas kemudian pertumbuhan masa remaja mulai terjadi secara pesat.
12.  Usia 16-20 tahun
Pada usia ini mengiringi masa pubertas, sistem penentu sirkadian dan ritme biologis beralih, mempengaruhi siklus tidur-bangun.

Tahap perkembangan psikomotor dari lahir hingga 16 bulan menurut Santrock (2007:128) dalam “Life Span Development” dapat dilihat dari diagram berikut ini :
TAHAP PERKEMBANGAN KOGNITIF SEJAK LAHIR HINGGA REMAJA
Pada saat seorang bayi terlahir di dunia, ia sudah diciptakan dengan milliaran jaringan sel otak yang sangat luar biasa. Hal ini menjadi pondasi penting bagi perkembangan kognitifnya kelak. Perkembangan kognitif (cognitive development) dalam buku Human Development (Papalia, Old dan Feldman, 2009;12) didefinisikan sebagai suatu pola perubahan dalam kemampuan-kemampuan mental, seperti; belajar, perhatian, ingatan, bahasa, berpikir, penalaran dan kreativitas.
Sedangkan menurut Muhibin Syah (2008;60) dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru” perkembangan Konitif (cognitive development) adalah perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak.  
Selain itu menurut Desmita (2009), perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Sehingga kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah.
Menurut Piaget berbagai perubahan kualitatif pada pikiran muncul antara masa bayi dan masa remaja (dalam Papalia, Old dan Feldman, 2009;42). Berikut ini beberapa teori tahap-tahap perkembangan kognitif sejak lahir hingga remaja menurut tokoh-tokoh, yaitu antara lain ;

                               I.   Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Jean Piaget
1. Masa Sensori Motor (0-2 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem pengindraan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan reaksi motorik atas rangsangan-rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks misalnya refleks menangis, dan lain-lain. Refleks ini kemudian berkembang lagi menjadi gerakan-gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan (Sunarto, 2008:24)
Piaget membagi tahap sensori motor dalam enam periode, yaitu :
a.    Refleks (umur 0-1 bulan)
Tingkah laku bayi kebanyakan bersifat refleks, spontan tidak sengaja, dan tidak terbedakan.
Contoh: refleks menangis, mengisap, menggerakkan tangan dan kepala, mengisap benda didekatnya, dan lain-lain.
b.    Kebiasaan (umur 1-4 bulan)
Kebiasaan dibuat dengan dengan mencoba-coba dan mengulang-ulang suatu tindakan.
Contoh: seorang bayi mengembangkan kebiasaan mengisap jari. Awalnya ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulut, lalu pelan-pelan mencoba dan akhirnya bisa. Setelah itu menjadi lebih cepat melkukan kembali. Maka itu, terjadilah suatu kebiasaan mengisap ibu jari.
c.    Reproduksi kejadian yang menarik (4-8 bulan)
Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya.
Misalnya seorang bayi diletakkan diatas ranjang dan diberi mainan yang akan berbunyi jika talinya dipegang. Suatu saat ia main-main dan menarik tali itu. Ia mendengar bunyi yang bagus dan ia senang. Maka, ia akan menarik tali itu agar muncul bunyi yang sama.
d.     Koordinasi skemata (8-12 bulan)
Seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya.
Contoh: seorang bayi diberi mainan tetapi letaknya jauh. Di dekatnya terdapat tongkat kecil dan  dia akan menggunakannya untuk menggapai mainan tersebut.
          e.    Eksperimen (12-18 bulan)
Masa  anak mulai mengembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan eksperimen.
Contoh: anak diberi makanan yang diletakkan di meja. Ia akan mencoba menjatuhkan makanan itu dan memakannya.
f.      Representasi (18-24 bulan)
Seorang anak sudah mulai menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal tetapi juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya.
Misal: Lauren mencoba membuka pintu kebun. Ia tidak berhasil karena pintu disangga oleh sebuah kursi diseberangnya. Ia pergi di sisi lain dan memindahkan kursi yang menghambat tersebut, padahal ia tidak melihat. Dari kejadian tersebut, tampak jelas bahwa lauren dapat mengerti apabila penyebab pintu itu adalah sesuatu yang berada dibelakang pintu tersebut, meskipun ia tidak melihat.
Berikut ini table sub tahapan sensorimotor menurut Piaget dalam buku Life Span Development (Santrock, 2007 ; 149 ) :
 2. Masa Pra-Operasional (2-7 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol yang mewakili suatu konsep. Misal, seseorang anak yang pernah melihat dokter berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008:24).
Piaget membagi perkembangan kognitif tahap praoperasional dalam dua bagian:
1.      Umur 2-4 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran logis
Piaget membedakan antara “simbol” dan “tanda” dengan “indeks” dan sinyal.dalam pengertian simbol dan tanda (sign) dibedakan antara objek yang ditandakan dengan  tandanya sendiri misalnya anak bermain pasar pasaran  dengan uang dari daun.”daun”di sini sebagai tanda ,sedangkan “uang”adalah yang di tanda kan.dalam kenyataan daun dan uang tidak sama.dalam pengertian”indeks” dan “sinyal” tidak di bedakan antara tanda dan objek yang di tandakan.
Piaget  juga membedakan antara “simbol” dan “tanda”. Simbol adalah suatu hal yang lebih menyamai dengan yang di simbolkan seperti gambaran dan bayangan . tanda lebih merupakan sembarang benda yang di guna kan tanpa ada kesamaan dengan yang ditandakan.
2.      Umur 4-7 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran intuitif
Menurut piaget (1981) pemikiran anak pada umur 4 -7 tahun berkembang pesat secara bertahap ke arah konsep tualisasi. Ia berkembang dari tahap simbolis dan prakonseptual ke permulaan oprasional . tetapi perkembangan itu belum penuh karena anak masih mengalami oprasi yang tidak lengkap dengan suatu bentuk pemikiran yang semi simbolis atau penalaran intuitif yang tidak  logis. Dalam hal ini seseorang anak masih mengambil keputusan hanya dengan aturan-aturan intuitif yang masih mirif dengan tahap sensorimotor
Pemikiran intuitif adalah persepsi langsung akan dunia luar tetapi tanpa di nalar terlebih dahulu. kelemahan pemikiran ini adalah bahwa pemikiran nya searah
(centred) dimana anak hanya dapat melihat dari satu segi saja.dalam pemikiran ini anak belum dapat melihat pluralitas gagasan tetapi hanya satu persatu. apabila beberapa gagasan di gabungkan pemikiran anak menjadi kacau. Pada tahap ini anak belum dapat berpikir decentred yaitu melihat berbagai segi dalam satu kesatuan.
3.      Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
Tahap ini dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Tahap operasi konkret tetap ditandai dengan asanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang konkret, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis.
4.      Tahap Operasional Formal (11 tahun-dewasa)
Menurut Piaget ketika tahap ini remaja memasuki level tertinggi perkembangan kognitif.  Tidak lagi terbatas oleh disini dan sekarang, mereka sudah dapat memahami waktu historis dan ruang luar angkasa (dalam Human Development, Papalia, Old, Feldman, 2008;554).
Selain itu pada tahap ini individu dapat berpikir secara abstrak, menangani situasi-situasi perumpamaan dan berpikir mengenai berbagai kemungkinan (dalam Human Development, Papalia, Old, Feldman, 2009 ; 46).  Sehingga ketika masa ini individu sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoretis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu.
A.    Perkembangan Psikomotorik
Perkembangan psikomotorik merupakan perkembangan terkait dengan perilaku motorik (koordinasi fungsional neuromuscular system) dan fungsi psikis (kognitif, afektif dan konatit). Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku psikomotorik ialah bahwa perkembangan itu berlangsung dari yang sederhana kepada yang kompleks, dan dari yang kasar dan global (grass bodily movements) kepada yang harus dan spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements).


Afektif
Afektif menurut kamus besar bahasa indoensia adalah berkenaan dengan rasa takut atau cinta; mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi; mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan (tentang tata bahasa atau makna).
Pentahapan psikososial manusia menurut Erikson;
1. Tahap oral (0-1 tahun)
Pada tahap ini zona utamanya adalah mulut dan aktivitas inderawi. Tahapan ini secara umum disebut sebagai tahap kepercayaan versus ketidakpercayaan mendasar. Bayi berusaha untuk menemukan sejumlah konsistensi, prediksi dan realibilitas dalam tindakan pengasuhan. Jika orang tua cukup konsisten dan dapat diandalkan maka bayi mulai mengembangkan kepercayaan mendasar kepada orang tua. Sebaliknya, jika orang tua tidak bisa diprediksi dan tidak bisa dipercaya sehingga tidak akan pernah hadir jika dibutuhkan maka yang berkembang adalah rasa tidak percaya. Bayi yang bisa menyeimbangkan rasa percaya dan tidak percaya ini dengan berhasil maka akan muncul harapan. Harapan sebagai sebuah ekspektasi yang sekalipun terdapat rasa frustasi, marah atau kecewa, hal-hal yang baik tetap akan terjadi dimasa depan. Harapan akan memampukan anak bergerak maju ke dunia luar, menyambut tantangan baru.
2. Tahap anal (1-3 tahun)
Pada tahap ini anak memperoleh kontrol atas otot-otot perutnya sehingga dapat menahan atau menghilangkan dorongan untuk buang hajat sesuai kehendak mereka. Bentuk dasar tahapan ini adalah menahan atau melepaskan. Tahapan umum pada tahapan ini adalah otonomu versus rasa malu dan ragu-ragu. Anak berusaha melatih kemampuan memilih, melatih kehendak mereka (otonomi). Penekanan yang kuat terhadap kata “tidak”, anak menolak semua kontrol eksternal atas dirinya. Bagi orang tua anak tidak boleh mengatakan tidak, karena mereka hidup dalam masyarakat dan harus menghargai keinginan orang lain. Otonomi muncul dari dalam sebagai sebuah pendewasaan biologis yang mengembangkan kemampuan anak untuk melakukan segala hal dengan caranya sendiri. Sedangkan rasa malu dan ragu-ragu muncul dari kesadaran akan ekspektasi dan tekanan sosial, kesadaran bahwa dirinya tidak begitu berkuasa sehingga orang tua dapat mengontrol dan bertindak lebih baik dari dia. Bagi anak yang mampu menyeimbangkan rasio otonomi dan rasa malu dan ragu-ragu maka akan muncul kehendak yang kokoh. Kehendak sebagai  kebulatan tekad yang tidak bisa dipatahkan untuk melatih pilihan bebas dan pengendalian diri. Kemampuan pengendalian diri yang percaya bahwa pernting bagi anak untuk belajar mengontrol impuls mereka sendiri dan menentukan apa yang tidak pantas dilakukan. Jadi anak yang harus berinisiatif demikian bukan kekuatan eksternal.
3. Tahap falik (3-6 tahun)
Pada tahap ini anak memfokuskan ketertarikannya pada alat kelaminnya dan menjadi sangat ingin tahu organ kelaminnya. Anak juga sudah mulai membayangkan dirinya dalam peran orang dewasa, bahkan berani bersaing dengan salah satu orang tuanya untuk memperoleh kasih sayang. Bentuk utama tahap ini adalah intrusi yaitu keberanian, keingintahuan dan persaingan dalam diri anak. Tahapan umum dalam tahap ini yaitu inisiatif versus rasa bersalah. Inisiatif yang berarti sama dengan intrusi, berarti pergerakan kedepan. Lewat inisiatif anak membuat rencana, menetapkan tujuan, dan mempunyai semangat untuk mencapainya, yang pada akhirnya membentuk ambisi tertentu. Namun dalam perjalannya anak mendapati bahwa ambisi tersebut melanggar aturan sosial yang ada dalam masyarakat sehingga rasa bersalah itu muncul pengendalian diri yang baru dimana anak berusaha untuk mencari cara menghubungkan ambisi dengan tujuan sosial. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memperlunak otoritas dan memperbolehkan anak berpartisipasi untuk menghadapi kehidupan. Lewat cara inilah maka penyimbangan terhadap inisiatif dan rasa bersalah dapat membentuk “tujuan” yaitu keberanian untuk memimpikan dan mengejar tujuan yang bernilai.
4. Tahap latensi (6-11 tahun)
Pada tahap ini anak belajar untuk menguasai kemampuan kognitif dan sosial yang penting. Tahap umum dalam tahapan ini adalah industry versus inferioritas. Anak melupakan harapan dan keingian masa lalu, yang seringkali merupakan harapan dan keinginan keluarganya, dan sangat ingin mempelajari kemampuan budaya masyarakat (industri). Anak belajar untuk bekerja sama dan bermain bersama teman sebayanya. Keinginan ini kemudian dibatasi dengan perasaan berlebih-lebihan karena ketidaktepatan dan inferioritas. Inferior yang terlalu mendalam akan berakar dan menyebabkan anak tidak memperoleh talentanya. Misalnya, olok-olok dan rasa sakit hati pada masa sekolah akan membentuk anak untuk tidak berhasil memperoleh dirinya dengan penuh. Guru dapat menyelesaikan konflik ini dengan membentuk rasa percaya terhadap diri fan dihargai komunitas. Keberhasilan menyeimbangkan industry dan inferioritas menghasilkan kompetensi, yaitu sebuah latihan intelegensia dan kemampuan secara bebas dalam menyelesaikan tugas, tanpa diganggu perasaan inferioritas yang berlebihan.
5. Tahap genital (11 tahun – dewasa)
Pada tahap ini remaja membangun pembahaman baru mengenai dirinya, perasaan tentang dirinya dan apa tempatnya di tatanan sosial yang lebih besar. Tahap utama dalam pentahapan ini adalah identitas versus kebingungan peran. Remaja mencari identitas dirinya, merasa bahwa implus-implus tidak dapat menyatu dengan dirinya, dan pertumbuhan fisik yang sangat cepat telah menciptakan rasa kebingungan identitas. Untuk alasan inilah maka banyak remaja yang menghabiskan banyak waktunya didepan kaca dan memperhatikan penampilannya. Upaya ini dilakukan untuk menghilangkan ketakutannya tidak terlihat baik atau tidak memenuhi harapan orang lain. Ketidakpastian remaja akan dirinya, diidentifikasi dengan masuknya remaja dalam geng tertentu yang dianggap dapat menjelaskan dirinya yang sebenarnya. Remaja membentu identitasnya dengan pengidentifikasian, yang secara tidak sadar dilihat dari identifikasi diri yang tampak pada kita sehingga menjadikan diri kita seperti mereka. Oleh kerena itu untuk dapat menemukan diri sendiri seharusnya remaja melakukan penarikan diri (moratorium psikososial).  Pencarian diri tersebut kemudian membawa remaja pada komitmen permanen sehingga keberhasilan pada tahap ini membentuk kesetiaan yaitu sebuah kemampuan untuk mempertahankan loyalitas yang sudah dinanti sejak dulu.
Psikomotor
Psikomotor secara harfiah berarti sesuatu yang berkenaan dengan gerak fisik yang berkaitan dengan proses mental (kamus besar bahasa Indonesia).
Adapun tahapan perkembangan motorik adalah sebagai berikut;
1. Tahap gerakan refleks (0- 1 tahun)
Bentuk gerakan pada tahapan ini tidak direncanakan, merupakan dasar dari perkembangan motorik. Melalui gerak refleks bayi memperoleh informasi tentang lingkungannya, seperti reaksi terhadap sentuhan, cahaya, suara. Gerakan ini berkaitan dengan meningkatnya pengalaman anak untuk mengenal dunia pada bulan-bulan pertama mengenal kehidupan setelah kelahiran. Oleh karena itu kegiatan bermain sangat penting untuk menolong anak belajar teng dirinya dan dunia luar. Tahapan gerak refleks terbagi atas dua bentuk yaitu;
1. Refleks sederhana (0-4 bulan)
Gerak ini dikelompokkan sebagai kumpulan informasi, mencari makanan, dan respon melindungi. Mengumpulkan informasi membutuhkan rangsangan untuk berkembang. Kemampuan mencari makanan dan respon melindungi merupakan bentuk alami yang dimiliki manusia. contoh geak refleks sederhana seperti, bertumbuh dan menghisap.
2. Refleks tubuh (4 bulan – 1 tahun)
Refleks ini berkaitan dengan saraf motorik untuk keseimbangan, gerakan berpindah (lokomotor) dan manipulative (menjalankan) yang kemudian akan terkontrol. Refleks langkah dasar dan merangkak terkait dengan gerakan dasar untuk berjalan.
Perkembangan motorik pada tahap refleks terdiri pula dalam dua tingkatan yang saling bertindihan, yaitu tingkat encoding (mengumpulkan) informasi dan decoding (memproses) informasi. Pembagian ini pada dasarnya sama dengan gerak refleks sederhana dan refleks tubuh.
2. Tahap gerakan permulaan (lahir-2 tahun)
Gerak permulaan ini merupakan bentuk gerak sukarela yang pertama. Dimulai dari lahir sampai usia 2 tahun. Gerakan permulaan membutuhkan kematangan dan berkembang berurutan. Urutan ini terbentuk alami. Rata-rata kemampuan ini didapat dari anak ke anak, meskipun secara biologis, dan lingkungan sangat berperan. Gerakan ini ada sebagai kemampuan untuk bertahan hidup dan merupakan gerakan yang mempersiapkan anak untuk memasuki tahap gerakan dasar. Beberapa gerakan keseimbangan seperti mengontrol kepala, leher, dan otot badan. Gerakan manipulative seperti menggapai, menggenggam, dan melepaskan; dan gerakan lokomotor seperti, merayap, merangkak, dan berjalan. Gerakan ini terbagi atas dua tahapan, yaitu;
1.      Tahap refleks tertahan (lahir-1 tahun)
Tahap ini dimulai dari lahir. Peningkatan gerakan bayi ini dipengaruhi oleh perkembangan cortex. Pada tahap ini gerakan sederhana dan gerakan tubuh digantikan dengan gerakan sukarela, namun berbeda dan terpadu karena saraf motorik bayi masih dalam taraf gerakan permulaan. Jika bayi ingin menggapai benda, mereka akan melakukan gerakan menyeluruh yang dilakukan tangan, lengan, bahu, dan ketika menggenggam. Proses bergeraknya tangan dengan penglihatan terhadap objek, meskipun sukarela, namun terkontrol.
2. Tahap prekontrol (1 – 2 tahun)
Usia 1 tahun, anak mulai lebih baik mengontrol gerakannya. Proses ini menggabungkan antara sensori dan sistem motorik dan memadukan persepsi dan informasi motorik kedalam kegiatan yang lebih bermakna. Pada tahap ini, anak belajar untuk dapat menyokong equilibriumnya, untuk memanipulasi objek, dan untuk melakukan gerakan lokomotor melalui lingkungan untuk mengontrol perkembangannya.
3. Tahap gerakan dasar (2-7 tahun)
Gerakan ini muncul ketika anak aktif bereksplorasi dan bereksperimen dengan potensi gerak yang dimilikinya. Tahap ini merupakan tahap menemukan bagaimana menunjukkan berbagai gerak keseimbangan, lokomotor dan manipulative, maupun penggabungan ketiga gerakan tersebut. anak mengembangkan gerakan dasar ini untuk belajar bagaimana merespon kontrol motorik dan kompetensi gerakan dari berbagai rangsangan. Gerakan dasar ini juga digunakan sebagai dasar pengamatan tingkah laku anak. Beberapa kegiatan lokomotor seperti melempar dan menangkap, dan kegiatan keseimbangan seperti berjalan lurus dan keseimbangan berdiri dengan satu kaki merupakan gerakan yang dapat dikembangkan semasa kanak-kanak. Tahap ini terbagi atas 3 tingkat, yaitu;
1. Tingkat permulaan (2-3 tahun)
Tingkatan ini menunjukkan orientasi tujuan pertama anak pada kemampuan permulaan. Gerakan ini dicirikan dengan kesalahan dan kegagalan bagian gerakan secara berurutan, kelihatan membatasi atau berlebihan menggunakan anggota tubuh, tidak mampu mengikuti ritmk dan koordinasi. Gerakan keseimbangan, lokomotor, dan manipulative benar-benar pada tingkat permulaan.

2. Tingkat elementary (4-5 tahun)
Tingkatan ini menunjukkan kontrol yang lebih baik dan gerakan permulaan koordinasi ritmik yang lebih baik pula. Gerak spasial dan temporal lebih meningkat, namun secara umum masih kelihatan membatasi atau berlebihan, meskipun koordinasi lebih baik. Intelegensi dan fungsi fisik anak semakin meningkat melalui proses kematangan.
3. Tingkat mature (6-7 tahun)
Tingkatan ini dicirikan oleh efisiensi secara mekanik, koordinasi dan penampilan yang terkontrol. Keahlian manipulative semakin berkembang dalam mengkoordinasi secara visual dan motorik, seperti menangkap, menendang, bermain voli, dsb).
4. Tahap gerakan keahlian (7-14 tahun)
Tahapan ini merupakan tahap gerakan yang semakin bervariasi dan kompleks, seperti gerakan sehari-hari, rekreaasi dan olahraga baru. Periode ini merupakan tahap dimana keahlian keseimbangan dasar, gerak lokomotor dan manipulative meningkat, berkombinasi, dan terelaborasi dalam berbagai situasi. Misalnya gerakan dasar melompat dan meloncat, dikombinasikan kedalam kegiatan menari atau lompat-jongkok-berjalan dalam mngikuti jejak. Tahapan ini terbagi atas 3 tahap, yaitu;
1. Tahap transisi (7-10 tahun)
Tahap ini indivdu mulai mengkombinasi dan mengunakan kemampuan dasarnya dalam kegiatan olahraga. Misalnya, berjalan mengikuti garis lurus, lompat tali, bermain bola, dll. Keahlian pada tahap ini lebih kompleks dan spesifik.
2. Tahap aplikasi (11-13 tahun)
Pada tahap ini anak memiliki keterbatasn dalam kemampuan kognitif, afektif dan pengalaman, dikombinasikan dengan keaktifan anak secara alami mempengaruhi semua aktivitasnya. Peningkatan kognitif dan pengalaman anak dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk belajar dan peran anak dalam berbagai jenis aktifitas, indivudu dan lingkungan. Keahlian kompleks dibentuk dan digunakan dalam pertandingan, kegiatan memimpin dan memilih olahraga.
3. Tahap lifelong utilisasi (14 tahun sampai dewasa)
Tahapan ini merupakan puncak proses perkembangan motorik dan dicirikan dengan gerakan yang sering dilakukan sehari-hari. Minat, kompetensi, dan pilihan mempengaruhi, selain faktor uang dan waktu, peralatan dan fasilitas, fisik dan mental, bakat, kesempatan, kondisi fisik dan motivasi pribadi.

1 komentar:

  1. Gratis Casino - Gratis Casino Hotel | Mapyro
    Gratis Casino Hotel in 익산 출장마사지 Gratis, Italy is a 5 star hotel in Gratis with 의정부 출장샵 5 views of High St. Louis, 속초 출장안마 and it 동두천 출장안마 is a 6 story high street resort with a casino 서산 출장안마 and

    BalasHapus